Hati – hati Ancaman Siber Infrastruktur Cloud Naik Ketika WFH

Hal ini karena adanya analisis Horangi pada 285.000 scan yang dilakukan aplikasi multi-cloud Warden yang menjadi solusi Cloud Security Posture Management (CSPM) andalan mereka.

0

Horangi merupakan perusahaan keamanan siber terkenal yang didirikan mantan insinyur Palantir Technologies dan punya kantor pusat di Singapura.

Pandemi yang belum berakhir mengharuskan banyak orang untuk melakukan aktivitas dari rumah atau Work From Home.

Hal ini kemudian memacu terjadinya peningkatan risiko keamanan infrastruktur Coud.

Horangi, perusahaan keamanan siber yang menawarkan solusi maksimal untuk organisasi berbasis cloud di seluruh Asia Tenggara sudah mengidentifikasi ancaman keamanan siber dari infrastruktur cloud yang tidak terkonfigurasi dengan tepat.

Banyak dari organisasi melupakan area ini sehingga dikhawatirkan mengakibatkan risiko untuk organisasi yang memakai metode Work From Home (WFH) sebab pandemi COVID-19, ditambah dengan berkembangnya perpindahan ke cloud.

Hal ini karena adanya analisis Horangi pada 285.000 scan yang dilakukan aplikasi multi-cloud Warden yang menjadi solusi Cloud Security Posture Management (CSPM) andalan mereka.

Temuan tersebut menyeutkan jika dari 57.000 scan ada 20% kesalahan konfigurasi yang berpeluang untuk digunakan sebagai vektor ancaman oleh pelaku ancaman keamanan siber. Kesalahan konfigurasi ini biasanya meliputi akses unrestricted dan juga akses ilegal pada jaringan di dalam organisasi.

Dikabarkan dari CEO dan Co Founder Horangi, paul Hadjy menyebut jika sekarang ini para pemimpin dan pemilik kepentingan di sektor IT harus focus ke tujuan dan investasi mereka di kebijakan, acces control, IAM, access management istimewa, pelatihan pengetahuan keamanan siber, endpoint protection, pencegahan kehilangan data, dan juga risiko supply chain  untuk  keamanan kerja jarak jauh untuk mencegah adanya kebocoran dan serangan siber.

Survey global dari JLL memperlihatkan jika 72% responden lebih banyak memilih kerja jarak jauh pasca-pandemi. Tetapi seiring hal itu, risiko pada serangan keamanan siber meningkat bersamaan dengan ruang kerja yang tersebar, ukuran yang makin tinggi, cakupan dan kesulitan dari infrastruktur keamanan siber.

Gartner melihat jika sebagian besar serangan yang terjadi di layanan cloud dipengaruhi kesalahan ketika menyiapkan infrastruktur cloud.

Tentu ini membuat risiko kerja jarak jauh di masa yang akan datang. Tingginya ketergantungan pada platform virtual dan cara komunikasi juga meningkatkan serangan phising dan ransomware yang menuju hilangnya data personal dan data-data penting.

Solusi yang bisa dilakukan adalah pemakaian CSPM yang bisa cek dan memperbaiki kerentanan secara proaktif, membantu perusahaan untuk meningkatkan risiko organisasi khususnya untuk yang sudah memakai cloud.

Horangi yang baru saja mengantongi sertifikasi Kompetensi Keamanan Amazon Web Services dan Kompetensi Keamanan Sektor Publik, memberi target untuk peningkatan pangsa pasar keamanan siber komputasi awan di Asia Tenggara yang berdasarkan IDC punya potensi mencapai 40,32 miliar dolar AS tahun 2025.

Ada juga beragam resiko lain dalam infrastruktur cloud secara kolektif dalam keamanan keseluruhan organisasi misalnya manajemen identitas dan akses (IAM – Identity and Access Management), kontrol akses jaringan dan audit logging.

Ada dua kategori layanan yang ditawarkan untuk pengguna dalam memastikan keamanan cloud untuk aplikasi. Native Cloud Security yang ditawarkan oleh Penyedia Layanan Cloud (CSP – Cloud Service Provide) misalnya Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud Platform (GCP) dalam infrastruktur mereka sekarang ini.

Di samping itu ada juga keamanan third-party yang jadi solusi unik dari penyedia layanan non-CSP supaya memperbaiki kekurangan dari sistem keamanan bawaan CSP.

Perangkat Native Cloud Security bisa jadi cukup untuk bisnis dengan lingkungan cloud tunggal. Tetapi, opsi solusi keamanan siber dari pihak ketiga adalah pilihan yang lebih baik untuk organisasi yang harus mengelola beban kerja cloud yang lebih besar, dan punya beberapa akun layanan cloud.

Laporan analisis yang lebih detail sehubungan kelebihan kompetitif dari Solusi Native Cloud Security, dapat diakses lewat Whitepaper Horangi dengan judul ‘The Hitchhiker’s Guide to Cloud Security’ lewat tautan di bawah ini.

Apa itu Horangi?

Horangi merupakan perusahaan keamanan siber terkenal yang didirikan mantan insinyur Palantir Technologies dan punya kantor pusat di Singapura.

Platform keamanan cloud Warden yang terbaik di kelasnya dari Horangi, melindungi organisasi di cloud publik, didukung tim elit pakar keamanan siber yang menawarkan layanan OffSec terakreditasi CREST dan layanan keamanan siber strategis untuk pelanggan di seluruh dunia.

Kalian tertarik menggunakan layanan mereka juga?

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.