Stop Posting Ini di Platform Media Sosial!

Semua hal yang dipublikasikan orang tua atau anak-anak secara online bisa menjadi bumerang yang merugikan, baik itu posting mengenai topik acak, foto pribadi, atau detail kehidupan mereka. 

0

Media sosial kemudian menjadi platform untuk para ibu dan ayah untuk istirahat sejenak dan memperoleh dukungan emosional dan juga banyak anjuran dari kelompok usia mereka.

Sosial media menjadi platform ang sangat popular sampai saat ini. Ada beragam tayangan disana. Baik foto, video, music sampai status juga berseliwersn di beranda sosial.

Tetapi dengan kehadiran media sosial, perlahan kehiudupan pribadi seseorang hilang. Hampir semua kegiatan diupload, bahkan suasana hati, dan curahan rasa. Hal ini membagikan pengingat untuk para orang tua mengenai risiko berbagi informasi di dunia daring.

Dari semua penduduk di satu wilayah, 80% orang tua di wilayah ini menghabiskan banyak waktu untuk aplikasi jejaring sosial yang berbeda sebab pembatasan sosial memaksa mereka untuk bekerja di rumah dan menjaga anak-anak di waktu yang bersamaan.

Peran orang tua pun menjadi kabur karena rumah yang ditempati berubah sekaligus menjadi kantor dan sekolah untuk anak-anak.

Media sosial kemudian menjadi platform untuk para ibu dan ayah untuk istirahat sejenak dan memperoleh dukungan emosional dan juga banyak anjuran dari kelompok usia mereka.

Walau punya segudang manfaat, media sosial juga bisa menjadi ancaman daring yang mengintai setiap saat.

Sangat perlu untuk berhati-hati dengan informasi yang diposting di akun media sosial sebab bahaya terbesar ada di fakta informasi yang dibagikan di situs jejaring sosial dan sumber publik lainnya bisa dianalisis dan dipakai oleh seluruh orang asing, termasuk pelaku kejahatan siber dari celah manapun.

Semua hal yang dipublikasikan orang tua atau anak-anak secara online bisa menjadi bumerang yang merugikan, baik itu posting mengenai topik acak, foto pribadi, atau detail kehidupan mereka. 

Oleh sebab itu penting untuk mengingat dan mengajarkan kepada anak-anak, bahwa sebelum mereka tap tombol “publish”, luangkan waktu sejenak untuk berpikir dua kali. 

Ajaklah berfikir mengenai konsekuensi merugikan di masa mendatang yang mungkin bisa muncul dari publikasi yang dibagikan. 

Memangnyanya apa saja yang kalian dan anak kalian tidak boleh posting di platform online?

Alamat rumah atau sekolah

Dengan informasi ini, para perampok, pedofil, pengganggu, dan profil jahat lainnya bisa dengan mudah menemukan kalian atau anak kalian. Anak-anak jarang mempublikasikan alamat rumah di situs jejaring sosial, tetapi sangat sering menginformasikan nama sekolah yang mereka hadiri. 

Di samping di halaman utama, penting juga untuk tidak membagikan informasi ini pada kolom komentar atau foto yang secara eksplisit menerangkan tempat anak kalian bersekolah.

Nomor telepon

Untuk anak-anak, nomor telepon merupakan kontak langsung yang bisa dipakai teman sebaya untuk pertolongan atas perlakuan penindasan dan bahkan bagi orang dewasa masih banyak lagi. 

Untuk para pelaku kejahatan siber, informasi khusus ini merupakan salah satu data paling berharga yang dapat mereka peroleh. 

Contohnya setidaknya sejak tahun 2016 penjahat dunia maya mulai mengumpulkan nomor telepon pengguna jejaring sosial dan memakai informasi yang dicuri untuk mendaftar ulang ke layanan perbankan online dan memperoleh akses ke akun korban mereka.

Geolokasi kalian sekarang ini (‘Check-in’)

Informasi jika keluarga jauh dari rumah menjadi sinyal untuk pencuri. Ini juga mempermudah untuk melacak seseorang. 

Di samping itu, mengatakan sesuatu misalnya “tempat favorit kami” dan memposting geotag bisa membahayakan walau kalian sedang tidak berada di tempat tersebut. 

Ini memperlihatkan kepada pelaku kejahatan jika tempat tersebut menjadi lokasi untuk menemukan kalian dengan mudah.

Foto dan video pribadi

Berfoto mungkin menjadi aktivitas yang cukup menyenangkan para remaja tapi bisa memunculkan masalah kalau dipublikasikan di Internet.

Contohnya, ada banyak situs yang mengumpulkan gambar erotis gadis remaja yang mereka posting sendiri dan dipublikasikan sebagai konten “panas”. 

Mengompromikan foto orang lain

Jangan memposting foto orang lain kalau kalian juga tidak ingin menjadi korban kejahatan. Pengguna dari segala usia harus paham aturan dasar ini. 

Kalau anak kalian paham jika memposting foto-foto dari perayaan pesta remaja bisa membahayakan, mengapa mengunggah foto sahabat pria atau wanita mereka menjadi hal yang wajar?

Foto bayi dari anak remaja kalian

Orang tua sangat umum memposting informasi di Web tentang anak mereka. Ingatlah, foto-foto anak Anda yang terlihat sangat manis bisa berpotensi mengakibatkan penindasan (bullying) di kemudian hari.

Foto-foto barang mewah

Ini akan memperlihatkan tingkat kekayaan atau kemewahan seseorang kepada pihak asing. 

Bersama dengan alamat rumah dan geolokasi kalian sekarang ini bisa menjadi tambang emas pencuri yang berselancar mencari korban di Internet.

Informasi tentang kehidupan pribadi

Informasi pribadi selalu bisa dipakai untuk merugikan kalian. Contohnya, ini bisa idpakai untuk menebak kata sandi akun online, merencanakan penipuan yang kemungkinan besar akan membuat kalian terjerat di dalamnya, atau untuk berkenalan dengan anak kalian dan mmeperoleh kepercayaan mereka. 

Mempublikasikan keluhan atau informasi pribadi tentang orang yang dicintai juga sangat berbahaya sebab bisa merusak hubungan.

Pernyataan kritis tentang topik sensitif

Kalian dan anak kalian boleh punya pendapat sendiri. Tapi, kalau masalah yang diperdebatkan menyangkut agama, politik, orientasi seksual, dan sebagainya, akan lebih baik untuk tidak membagikannya di Internet. 

Hal ini menimbulkan konflik yang bisa bergeser dari dunia maya ke dunia nyata, atau merusak reputasi kalian.

Lalu Apa yang harus kalian lakukan?

Pertama, beri tahu anak apa yang tidak boleh, dalam keadaan apa pun, dipublikasikan di Internet dan alasannya. Terangkan jika mengunggah sesuatu di situs jejaring sosial seperti berbicara di depan umum. Jangan menulis apa pun di Internet yang akan dianggap berbahaya atau tidak etis untuk ‘diteriakkan’ sembarangan di jalan atau di ruang kelas.

Kedua, terangkan jika semua informasi sensitif hanya bisa dibagikan lewat pengirim pesan dan hanya dengan orang yang kalian kenal di kehidupan nyata.
Ketiga, mendaftar di situs jejaring sosial yang sama dengan anak dan menambahkan mereka sebagai teman sehingga kalian bisa melihat kiriman mereka dan dengan cepat mencegah keterbukaan yang berlebihan.
Keempat, apabila anak kalian masih kecil, ingatlah akun jejaring sosial pertamanya harus dibuat bersama dengan orang tua. Disini kalian akan bisa memberitahukan semua aturan dan menyiapkan semua tindakan keamanan yang punya keselarasan dan pemahaman penuh tentang si buah hati.

Kelima, menggunakan aplikasi kontrol orang tua, yang melindungi anak-anak dari konten yang tidak pantas dan menginformasikan kepada kalian mengenai perubahan pada profil jejaring sosial dan daftar teman mereka dan juga unggahan yang berpotensi berbahaya.

Selamat mencoba!

Leave A Reply

Your email address will not be published.