Tips Mengatasi Financial Distress

Padahal situasi financial distress umumnya terjadi bukan hanya karena pandemi, akan tetapi terjadi disebabkan adanya kesalahan cara mengelola keuangan sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan atau likuidasi.

0

Bahkan untuk mempertahankan keadaan keuangan perusahaan, akhirnya banyak juga yang memberhentikan karyawan atau mem- PHK hanya untuk dapat keluar dari kondisi financial distress ini.

Pandemi saat ini membuat banyak perusahaan mengalami kesulitan keuangan atau financial distress. Ini adalah situasi yang dialami perusahaan.

Banyak juga perusahaan yang akhirnya gagal total karena financial distress sebab terdampak pandemi dan turunnya minat investor menanamkan saham di perusahaan-perusahaan yang ada.

Bahkan untuk mempertahankan keadaan keuangan perusahaan, akhirnya banyak juga yang memberhentikan karyawan atau mem- PHK hanya untuk dapat keluar dari kondisi financial distress ini.

Padahal situasi financial distress umumnya terjadi bukan hanya karena pandemi, akan tetapi terjadi disebabkan adanya kesalahan cara mengelola keuangan sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan atau likuidasi.

Lalu bagaimana caranya untuk dapat mengatasi financial distress ini? Berikut penjelasannya.

Financial Distress

Financial distress merupakan kesulitan dana untuk menutup kewajiban perusahaan atau kesulitan likuiditas yang dimulai dengan kesulitan ringan sampai pada kesulitan yang lebih serius, yaitu apabila hutang lebih besar daripada aset.

Umumnya, terjadi sebelum suatu perusahaan benar-benar mengalami kebangkrutan.

Financial distress merupakan suatu kondisi yang memperlihatkan tahap penurunan dalam kondisi keuangan perusahaan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan maupun likuidasi.

Apabila kesulitan keuangan tidak bisa dihilangkan, itu bisa membuat kebangkrutan.

Kemudian jika perusahaan sudah masuk dalam kondisi financial distress, maka manajemen harus berhati-hati sebab bisa jadi masuk ke tahap kebangkrutan dan harus melakukan skala prioritas dalam pengelolaan keuangan.

Manajemen perusahaan yang mengalami financial distress wajib mencari tindakan untuk mengatasi masalah keuangan tersebut untuk mencegah terjadinya kebangkrutan. Utamanya pelaku UKM harus bisa mengatur keuangan UKM secara optimal.

Jenis-Jenis Financial Distress

Terdapat 4 macam financial distress yang membuat sebuah perusahaan mengalami kebangkrutan. 

Economic Failure (Kegagalan Ekonomi)

Kegagalan ekonomi artinya kondisi perusahaan tidak dapat menutupi total cost dan membuat perusahaan tidak bisa membayar gaji karyawan.

Ini karena tingkat laba yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan total cost yang dikeluarkan. Banyak perusahaan yang akhirnya meminta investor untuk menambahkan modalnya kembali atau mencari investor baru.

Business Failure (Kegagalan Bisnis)

Kegagalan bisnis bisa diartikan keuangan perusahaan kehilangan kreditur sehingga harus menghentikan proses produksi. Dengan situasi begini, maka perusahaan harus bisa menghemat keuangan sehingga bisa meminimalisir resiko yang terjadi.

Financial Failure (Kegagalan Keuangan)

Kegagalan keuangan bisa diartikan suatu kondisi dimana sebuah perusahaan tidak bisa memenuhi kewajiban jangka pendeknya, misalnya tidak bisa membayar hutang tepat waktu (insolvensi) sebab mengalami kerugian atau berkurangnya likuiditas.

Kondisi financial failure biasanya dibagi menjadi dua jenis, insolvensi teknis dan insolvensi kebangkrutan.

Legal Bankruptcy (Bangkrut Secara Hukum)

Merupakan situasi dimana sebuah perusahaan dinyatakan pailit atau bangkrut dan sudah disahkan secara hukum. 

Lalu Bagaimana Cara Mengatasi Financial Distress?

Terdapat beberapa cara yang bisa kalian lakukan untuk mengatasi financial distress.

Pertama, perusahaan dapat menjual aset-aset utamanya. Contohnya tanah, gedung, kendaraan, mesin, dan sebagainya.

Sebab dengan menjual aset tersebut perusahaan masih dapat mengembalikan modal investor dan masih dapat menjalankan perusahaannya meski dengan modal minimun.

Kedua, perusahaan dapat melakukan merger dengan perusahaan lain. Merger merupakan penggabungan dua atau lebih perusahaan menjadi satu. Dimana perusahaan mengambil atau membeli semua asset dan liabilitas perusahaan sehingga perusahaan yang memerger punya paling tidak 50% saham.

Ketiga, membatasi belanja modal untuk ekspansi usaha, dengan kondisi financial distress perusahaan tidak akan mengeluarkan modal untuk ekpansi usaha, justru modal dipakai untuk menghemat keuangan paling efisien.

Keempat, mulai menerbitkan saham atau obligasi baru, umumnya sesudah perusahaan mengembalikan modal sebagian kepada investor. Perusahaan menerbitkan saham atau obligasi baru untuk pendanaan jangka panjang dan menaikkan modal dalam perusahaan tersebut.

Kelima, pengajuan restrukturisasi kredit kepada bank, dimana kondisi perusahaan sudah tidak bisa membayar bunga kredit lalu perusahaan meminta untuk dibuatkan penjadwal-ulang kembali pembayaran bunga kredit pada bank.

Keenam, dengan memberikan plafon kredit tambahan sehingga bisa mengkonversi utang bank menjadi modal tambahan untuk operasional perusahaan.

Ketujuh, mengajukan permohonan kepailitan sehingga dinyatakan legal secara hukum dan bisa dipertanggung-jawabkan kondisi financial distress pada public. 

Sebelum perusahaan mengajukan permohonan kebangkrutan, perusahaan harus melakukan pendekatan dengan kreditor dan juga membawa rencana reorganisasi perusahaan. Itu tadi arikel mengenai tips mengatasi financial distress. Selamat mencoba!

Leave A Reply

Your email address will not be published.